Gotong Royong yang Menjadi Tradisi

  • 2 min read
  • Mar 25, 2021
Tradisi Rambu Solo

Bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi semangat gotong royong. Gotong royong sendiri merupakan bekerja sama untuk mencapai hasil atau tujuan yang diinginkan. Dengan demikian, tentunya gotong royong memiliki nilai nilai pancasila di dalamnya, yaitu pelaksanaan dari nilai pancasila sila ke 3 persatuan Indonesia dan sila ke 5 keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia. Gotong royong sudah sejak zaman nenek moyang, sehingga sudah menjadi bagian dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, gotong royong sudah menjadi tradisi. Di antaranya ada beberapa  hal unik tradisi gotong royong di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari istilah penyebutan gotong royongnya yang berbeda-beda hingga jenis gotong royong yang dilakukan. Berikut beberapa tradisi gotong royong di Indonesia.

  • Tradisi Marslalapari

Marsialapari adalah salah satu tradisi yang dilestarikan oleh masyarakat Mandailing, Sumatra Utara. Tradisi tolong menolong ini kerap dilaksanakan pada saat marsuaneme dan saat manyabii, atau istilah yang dikenal ketika memasuki masa menanam dan memanen padi. Tradisi ini biasa dilakukan oleh antar saudara, kerabat, teman, maupun tetangga. Tidak mengenal laki-laki maupun perempuan, muda maupun tua. Mereka melakukan hal tersebut secara suka rela atas kesadaran sosial masing-masing. Di samping itu, tradisi Marisalapari ini menunjukkan adanya nilai kasih sayang (holong) dan persatuan (domu) yang hidup dalam khazanah budaya masyarakat Mandailing selama ini. Sehingga tradisi ini bukanlah sekadar aktivitas dalam melakukan gotong royong semata, tetapi tradisi ini juga mencerminkan nilai-nilai budaya masyarakat Mandailing.

  • Tradisi Rambu Solo

Tradisi Rambu Solo merupakan tradisi upacara pemakaman yang terkenal di Toraja. Tradisi ini dilambangkan sebagai kesempurnaan kematian seseorang agar bisa pergi dengan tenang dan bahagia. Untuk satu kali upacara, pihak keluarga yang ditinggalkan harus menyediakan hewan kurban berupa kerbau dan babi. Proses upacara pemakaman ini tentulah memerlukan banyak orang, sehingga kegiatan gotong royong oleh masyarakat setempat dilakukan. Cerita lainnya, tradisi ini digadang-gadang menjadi upacara pemakaman yang paling mahal di dunia. Upacara pemakaman yang berlangsung sampai tujuh hari ini diperkirakan memakan biaya ratusan juta hingga miliaran rupiah per satu kali acara adat. Bahkan membutuhkan tenaga ratusan orang.

  • Tradisi Morakka’Bola

Tradisi Morakka’Bola merupakan tradisi gotong royong memindahkan rumah pada masyarakat Bugis Barru, Sulawesi Selatan. Tradisi gotong royong di tengah masyarakat Desa Lalabata, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru tersebut ini masih kerap dilakukan dan diturunkan kepada generasi selanjutnya hingga sekarang. Tradisi ini juga dikenal sebagai tradisi mappalette. Warga yang hendak memindahkan rumahnya akan dibantu oleh warga sekitar dengan sukarela. Bobot rumah yang dipindahkan tentu saja tidak ringan, bisa puluhan ton. Jarak rumah yang dipindahkan ke lokasi baru juga biasanya tidak dekat. Kegiatan gotong royong memindahkan rumah yang begitu besar ini kerap dinilai tidak masuk akal sehat karena para warga benar-benar hanya menggunakan tenaga manusia. Namun, semangat gotong royong membuktikan bahwa hal yang mustahil dapat dilakukan.

  • Tradisi Nganggung

Tradisi Nganggung adalah tradisi yang masih melekat dalam ranah tanah Bangka, yang mana  sebuah kegiatan membawa dulang berisi makanan ke mesjid atau langgar. Nganggung merupakan rangkaian kegiatan yang mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, saling membantu antarwarga dalam suatu desa atau kampung. Nganggung dilakukan untuk menyambut datangnya hari besar keagamaan, menghormati orang yang meninggal dunia, atau menyambut kedatangan tamu besar, seperti gubernur atau bupati. Terlepas dari apa kepentingan tamu ini, bagi warga, tamu tetap harus disambut, dijunjung tinggi, dan dilayani dengan sebaik-baiknya. Cara atau bentuk pelayanan itu adalah memberikan makanan ”secukupnya” yang artinya memberikan makanan ”sekenyang-kenyangnya” kepada sang tamu.